Kalendar Kegiatan
September 2014
S M T W T F S
31 1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 1 2 3 4
Jejaring Sosial Kami :
  • Facebook: thesomt
  • Twitter: CandiMuaroJambi
  • External Link: sangkek.com/index.php?do=/somt/
Jumlah Tamu On-line :
We have 14 guests online

PRASASTI SINGKAT PADA MAKARA GAPURA CANDI KEDATON

Pada tanggal 10 Agustus 2011 di kompleks Candi Kedaton, pada salah satu runtuhan gapura, dilakukan pekerjaan pengupasan untuk pemugaran. Dalam melakukan pengupasan gapura di halaman utara bangunan candi Kedaton, ditemukan sepasang makara yang masih intak di sebelah kiri dan kanan tangga. Sepasang makara ini menghadap selatan ke arah bangunan candi induk Kedaton. Makara yang ada di sebelah barat, di bagian bawah belakang belalai terdapat dua baris tulisan. Makara yang ada di sebelah timur di bagian belakang belalai terdapat dua tulisan singkat yang terpisah. Tidak seperti prasasti pada umumnya yang dipahat kedalam, prasasti pada makara ini dipahat timbul.



Tambahkan Artikel ini di situs jejaring sosial Anda
Reddit! Del.icio.us! Mixx! Free and Open Source Software News Google! Live! Facebook! StumbleUpon! TwitThis Joomla Free PHP

Baca Selengkapnya....

 

Bangunan Candi

Candi Gumpung

 

Candi Gumpung merupakan salah satu candi di Kompleks Situs Percandian Muara jambi. Orang yang pertama kali yang menyebut Candi Gumpung yaitu F.M Schnitger dalam laporan tahun 1937, meskipun terjadi ketidaksesuaian dengan penyebutan candi tersebut sebagai Candi Tinggi. Candi Gumpung di bagian utara di batasi oleh Parit Johor dan kebun, bagian timur oleh jalan setapak, bagian selatan oleh gedung koleksi , dan bagian barat oleh Parit Sungai Jambi dan kebun. Menurut Boechari dalam laporannya berusaha mengetahui pertanggalan Candi Gumpung melalui paleografi pada prasasti-prasasti emas yang ditemukan di dalam Candi Gumpung. Tulisan pada prasasti-prasasti diperkirakan berasal dari pertengahan abad ke-9 s/d permulaan abad ke-10 masehi. Indikatornya diketahui dari cirri umum bentuk huruf, antara lain kcenderungan bentuk bulat dan adanya kuncir pada huruf-huruf tertentu.

Candi Gumpung memiliki halaman yang dibatasi dengan pagar keliling berbentuk bujursangkar 150  x 155 m, dan beberapa pagar pembagi ruang. Ketinggian permukaa rata-rata adalah 14,7 m dpl. Arah hadapnya timur, sesuai dengan penduduk  gapura utama yang menghadap ketimur. Sedangkan ukuran candi Induk 17,9 m x 17,3 m dengan ketinggian 6,7 meter dan Candi Perwara 9,85 m x 9,75 m. candi Induk ini mempunyai sebuah penampil di bagian timur dan sebuah arca Makara yang diletakkan di bagian kanan tangga naik. Sebuah arca Pradna Paramita juga ditemukan di halaman Candi ini pada saat dilakukan pemugaran

Pada bagian dasar Cnadi Gumpung ditemukan bengunan bata berbentuk kubus berukuran 6 x 8 meter. Tepat di bagian bawahnya terdapat 11 buah lubang yang disusun memencar dari titik pusat ke delapan penjuru mata angin. Lubang bagian pusat berukuran 1 x 1 meter, 4 lubang disekelilingnya berukuran 0,5 x 0,5 meter dan 4 lubang lainnya masing-masing berukuran 0,2 x 0,2 meter. Pada sisi barat laut lubang berukurab 0,2 x 0,2 meter, sedangkan sisi timur laut lubangya berukuran 0,15 x 0,15 meter. Dapat diduga bahwa sisi tenggara dan barat daya terdapat juga lubang serupa, sedangkan tentunya ada pula 4 lubang lagi pada ujung garis diagonalnya. Susunan demikian sesuai benar dengan susunan wajradhatumandala

Dari 11 lubang tersebut ditemukan pripih yang berupa kepingan emas yang sebagian besar diberikan goresan tulisan dan sebagian dipotong-potong menjadi lingkarandan gambar bunga. Temuan lainnya adalah sisa-sisa mangkuk perunggu dan sejumlah batu akik berangka jenis

Hampir keseluruhan tulisan tersebut menyebut nama dewa. 22 nama yang tercatum dalam pripih  itu di awali dengan perkataan wajra. Kenyataan ini mengingatkan kepada dewa-dewa yang tergantung pada pantheon wajradhaumandala. Dari Candi Gumpung ini didapatkan keterangan bahwa bangunan ini mengalami dua kali masa pembangunan yaitu abad XI dan abad  ke XIII. Sedangkan alam fikiran yang mendasari kegiatan bangunan ini adalah agama Budha Mahayana aliran Wajradhatu

Candi Tinggi 1

 

Candi Tinggi merupakan salah satu candi di kompleks Situs percandian Muara jambi yang pertama kali menyebut Candi Tinggi yaitu F.M. Schnitger dalam laporannya tahun 1937, meskipun ada kesalahan dalam penyebutan deskripsi dengan Candi Gumpung.

Luas kompleks Candi Tinggi 2,92 Ha dari 1 bangunan Induk, 5 bangunan  perwara dan pagar keliling. Pagar keliling candi  berukuran 90 x 74 meter. Bangunan Induknya telah dipagar berdenah bujursangkar, berukuran  16 x 16 meter dengan tingginya 7,6 m. penampil bangunan terletak di sisi selatan  berukuran 5 x 7 meter dan memiliki anak tangga. Candi ini memiliki 2 buah selasar yang masing-masing terletak pada bagian di atas kaki candi dan di atas tubuh candi. 2 buah susunan anak tangga masing-masing  terhubung dengan selasar kaki candi dan selasar tubuh candi. Kedua selasar ini berbentuk datar mengelilingi candi. Di selasar kaki candi tepar di kiri kanan depan tangga masuk terdapat susunan bata berbentuk persegi panjang ukuran 1 x 1 meter dengan tinggi 1 meter. Pada awalnya bangunan ini dibangun dalam 2 tahap strukutur bangunan yang lebih tua ditemukan masih tetap utuh di bagian dalam bagunan.

Sedangkan bangunan perwara berbentuk  bujursangkar  terletak menyebar di timur laut, barat, barat daya dan selatan dari bangunan induk. Keadaan sekarang ini bangunan perawara tersebut yang tersisa hanya bagian pondasi serta sedikit bagian kaki. Perwara di selatan candi induk berukuran 11 x 11  meter dengan bagian tengah terisi susunan bata, perwara di barat daya berukuran 7 x 7 meter dengan susunan bata hanya disekelilingi saja, bagian tengahnnya hanya tanah. Dua perwara berjajar kembar di sisi barat laut masing-masing berukuran 4 x 4 meter. Dan sebuah lagi berada di sudut timur laut berukuran 3,5 x 3,5 meter.

Gapura besar berdenah segi 20 berukuran 12 x 12 meter menuju kearah candi ini terletak ditengah pagar keliling sisi timur, namun di bagian barat pagar keliling juga terdapat gapura dengan ukuran yang lebih kecil. Candi Tinggi dibatasi bagian utara oleh Parit Johor dan kebun, bagian timur oleh halaman luar candi, bagian selatan oleh jalan setapak, dan bagian barat oleh halaman luar candi.

Candi Kembarbatu

Kompleks Candi Kembarbatu terletak 250 meter disebelah tenggara Candi Tinggi, sedangkan luas lahan Candi Kembarbatu 59 x 63 meter. Komponen Kompleks Candi Kembarbatu antara lain : 1 candi induk, 5 perwara yang telah dipagar, 2 perwara yang belum dipagar, 2 stuktur bagunan yang belum diketahui fungsinya, pagar keliling, gapura dan parit keliling. Secara keseluruhan komponen bangunan yang ada di Kompleks Candi Kembarbatu terbuat dari bata. Arah hadap candi induk menghadap ke timur, perwara I menghadap ke timur barat, perwara II dan V  menghadap ke timur dan perwara II dan perwara IV mengahadap ke utara. Candi-candi yang terdapat di kompleks Candi Kembarbatu sebagai berikut. Candi induk 11,39 m x 11,33 m x 2,85 m, Perwara I 11,60 mx 11 m x 1,86 m, Perwara II 3,7 m x 3,45 m x 1,30 m. Perwara III 8,09 m x 5, 79 m x 1,46 m, perwara IV 12,32 m x 12,17 m x 0,65 m, Perwara V 5,10 m x  5,07 m x 0,92 m. 2 buah bangunan perwara yang masing-masing terletak di timur dan selatan mempunyai lubang-lubang yang dahulunya merupakan tempat berdirinya tiang-tiang  kayu. Lubang tersebut ada yang berbentuk bulat dan ada pula yang berbentuk persegi.

Artefak yang ditemukan di Candi Kembarbatu ini antara lain adalah gong perunggu yang bertuliskan huruf cina kuno dan kepingan emas berbentuk kelopak bunga.

Candi Gedong I

Candi ini tidak diketahui tahun pembangunannya, tapi dilihat dari hiasan pada candi ini mempunyai kemiripan dengan bangunan-bangunan Hindu-Budha abad 15- 16 M di Jawa Timur sedangkan di lihat dari beberapa temuan berupa pecahan keramik cina bisa di indentifikasi bahwasanya ada keramik Sung (abad 10-13 M), Yuan (abad 15-16 M), Ming (abad 14-17 M), dan Ching (abad 17-20 M).

Kompleks candi ini terdiri di halaman seluas 5.525 m, terdiri dari dua bangunan yaitu induk dan sebuah gapura yang berada di timur. Pagar yang mengelilingi kompleks candi ini berukuran 65 m x 85 m, sedang bangunan induk berdenah  bujursangkar berukuran 14,5 mx 14,5 m, sedangkan tangga naik sebelah timur. Letak bangunan induk tepat berada ditengah halaman, melainkan agak bergeser kebelakang mendekati pagar sisi barat. Pada tangga naik di sisi timur terdapat hiasan berbentuk palang (+). Di lokasi ini ditemukan 6 buah umpak (alas tiang bangunan) dari batu, pecahan arca batu berbentuk kepala Budha, sejumlah bata bergambar dan bata bertulis, pecahan genteng. Selain itu juga ditemukan pecahan keramik cina dari dinasti Sung, Yuan, Ming dan Ching selain itu keramik Eropa dan pecahan-pecahan kaca kuno dari timur tengah dan India. Candi ini dibatasi oleh kebun kecuali bagian barat terdapat Candi Gedong II. Di bagian selatan terdapat menapo Gedong, sedangkan di utara terdapat 3 menapo yaitu Menapo Tahtulyaman, Menapo Pandir dan Menapo Capung.

Candi Gedong II

 

Kompleks candi ini memiliki luas berukuran 75 m x 67,5 m. di halaman tersebut berdiri bangunan Induk berukuran 9 mx 9 m  dan 2 candi perwara. Candi perwara I yang terletak di sebelah timur candi induk berukuran 8 x 8 m dengan penampil di barat dan timur, candi perwara II yang terletak di sebelah selatan candi induk berukuran 5 x 5 meter dengan penampil di utara. Gapura Candi Geding II merupakan gapura candi yang kondisi pemugarannya berhasil direkontruksi berbentuk segi 20 dengan ukuran 10 x 10 meter hingga mencapai ketinggian 5,2 meter.

Dari lokasi ini ditemukan arca gajah yang di atas punggunya dinaiki singa (Arca Gadjahsingha), dan Arca Dwarapala berukuran tinggi 1,4 meter. Arca Dwarapala ini dalam posisi berdiri dengan sikap kaki agak ditekuk sedikit/siaga. Tangan kanan memegang senjata gada dan tangan kiri memegang tameng. Tidak nampak mengenakan pakainan, hanya kain penutup bawah yang ditekuk terlihat tersenyum, walau dihiasi dengan kumis dan taring yang disamarkan. Model rambut diikat seperti bentuk sanggul. Kedua arca ini terbuat dari batu pasiran dan sekarang tersimpan di gedung koleksi Percandian Muara Jambi. Selain kedua arca tersebut ditemukan pula cukup banyak mata uang keping, sebuah perhiasan untuk pecahan kalung dan beberapa buah wadah keramik. Pada saat pembongkaran Perwara II yang terletak di sisi selatan candi induk di bagian pipih di temukan susunan bata bergambar padma di 8 penjuru mata angin. Pada ke-8 bata bergambar padma tersebut di bagian bawahnya ditemukan kepingan emas tanpa tulisan dan beberapa batu permata yang tidak digosok berukuran kecil.

Di dalam Kompleks Candi Gedong II yang telah mengalami pemugaran pada Candi Induk, kedua candi perwara, gapura dan pagar keliling. Candi Gedong II dibatasi oleh Menapo Pandir, Tahtulyaman dan Capung di sisi utara, sisi bagian timur terdapat Candi Gedong I, sisi selatan oleh Menapo Gedong, dan sisi barat oleh Menapo Parit Duku.

Candi Astano

 

Candi Astano terletak kurang lebih 1 kilometer sebelah timur Candi Tinggi. Di antara Candi Tinggi dan Candi Astano ini masih banyak terdapat gundukan tanah yang mengandung struktur bata kuno. Di sebelah selatan Candi Astano terdapat Danau Kelari, sedangkan sekelilingnya berupa kebun milik masyarakat. Candi Astano saat ini merupakan candi yang dipugar dalam posisi paling timur di Situs Muarajambi.

Candi ini dikelilingi parit buatan berbentuk temu gelang. Bangunan induknya berdenah persegi dua belas dan diperkirakan penbangunannya dilakukan dalam 3 tahap. Bangunan pertama sebagai yang tertua dan tertinggi berada di tengah. Sedangkan bagunan yang kedua  dan ketiga mengapit di sebelah timur dan baratnya. Pada waktu dilakukannya pembersihan dilingkukangan candi ditemukan dua buah padmasana dari bahan batu, 14 potongan arca batu, pipisan, lesung batu, manik-manik dan keramik asing maupun local dan disimpan di gedung koleksi Muarajambi.

Ukuran bangunan candi di bagian tengah 6 x 13 meter memanjang utara selatan, tinggi 3,5 meter. Di atas bangunan bagian tengah ini terdapat bagian tubuh yang tersisa dengan ukuran 4,5 x 7 meter dengan tinggi 1,5 meter. Tepat di bagian atas tubuh ini terdapat lubang yang diketahui pada saat dilakukan pemugaran. Inilah batas akhir bangunan yang diketahui bentuknya. Ukuran banguan tambahan disebelah kiri 2,9 x 3,65 meter dan tinggi 3 meter. Sedangkan ukuran bagunan tambahan kedua di sebelah  kanan 8,75 x 7,85 meter dan tinggi 3 meter.

Candi ini termasuk bagian dari candi-candi yang dilaporkan oleh Schnitger di tahun 1937. kelengkapan profil bangunan ini masih dapat lengkap di rekonstruksi,mulai profil dari bagian kaki hingga profil bagian tubuh. Garis pemisah antara srtuktur bata di bangunan awal dengan bangunan tambahan tampak jelas disisi utara, yang tampak mengikuti susunan berdasrkan profil sisi bangunan yang awal.

Candi Kedaton

Candi Kedaton secara astronomi terletak 103° 38; 55,6” BT dan 01° 28’ 32,8” LS. Keberadaan Candi Kedaton diketahui pada tahun 1976, setelah diadakan kegiatan survey kepurbakalaan di lingkungan Muara Jambi oleh Ditlinbinjarah. Kegiatan ini berhasil melakukan kegiatan penggambaran dan sementara hasil survey tersebut.

Kompleks Candi Kedaton memiliki keistimewaan luas tanah yang terluas dibandingkan yang lain yaitu, 55850 m2 dan pada bangunan induk memiliki bangunan induk memiliki bangunan terluas 26 m x 26 m serta pada bangunan induk terisi krilik-krilik berwarna putih yang diambil dari sungai Batanghari. Bangunan induk ini dibedakan secara horizontal menjadi beberapa bagian antara lain, ruang utama, penampilan dan tangga masuk. Ruangan utama ini berukuran 26 x 26 m dengan tinggi 6,8 m dari batas pondasi. Ruangan utama ini terdiri atas 2 bagian yaitu bangian tengah yang berisi kerakal putih dan bagian dinding yang terdiri dari susunan bata dengan lebar 5 meter sekelilingnya. Bagian dinding ini di bagian bawah berukuran lebih kecil lagi yaitu menjadi 2,5 meter dan terisi penuh oleh kerakal putih tersebut hingga bagiam dasar. posisi bagian dasar dari ruang utama ini diakhiri dengan susunan lantai bata, pada bagian paling atas tersisa sebuah bekas panil/bingkai yang tampak disisi barat. Sisi timur panil ini menyisakan hanya 1 baris bata, sedangkan sisa selatan juga menghasilkan satu baris bata pembentuk panil.

Penampilan bangunan berdenah persegi panjang dengan ukuran panjang 6,75 meter dan lebar 8 meter sedangkan tebal dinding penampil berukuran 1,5 meter. Bangunan penampil ini dindingnya lebih rendah dari lantai bagian tangga, sehingga membentuk ruang kosong dibawah tanah. Dahulunya di ruang ini terisi oleh kerakal putih sama seperti diruangan utama. Di depan penampil dilanjutkan dengan sebuah bangunan tangga masuk ini memiliki lebar anak tangga 2 meter dan dinding pipi tangga dengan lebar 1,5 meter. Pada bagian pipi tangga ini tampak hiasan berbentuk lengkungan yang hilang di bagian atasnya.

Selain candi induk. Candi Kedaton memiliki bagian candi perwara. Candi perwara yang baru diketahui pengupasan adalah yang ada tepat di bagian utara dan selatannya. Candi perwara ini berukuran 15 x 13,60 meter dengan penampilan di bagian utara dan selatannya. Candi perwara lainnya belum diketemukan, namun berdasarkan jumlah gundukan tanah yang tampak di situs Kedaton, kemungkinan jumlah perwara ini lebih dari satu. Candi kedaton memiliki pagar keliling berukuran 250 x 250 meter dan sebuah gapura besar di sebelah utara. Selain pagar keliling. Candi kedaton ini memiliki juga beberapa pagar kecil yang berfungsi sebagai pembagi ruang di bagian dalam.

Temuan yang berawal dari candi kedaton antara lain umpak batu, dan sebuah belangga perunggu besar yang ditemukan tidak jauh dari sekitar candi ini. Lokasi candi berada di perbatasan Desa Muara Jambi, di sebelah timur Candi Kedaton terdapat Kolam Sangkar Ikan dan menapo Pemandian Ayam, di sebelah barat menapo Yahuda da

 Menapo Saring, sedangkan di bagian utara adalah kebun.

Candi Kotomahligai

Candi ini terletak di Desa Danau Lamo. Kecamatan Marosebo, Kabupaten Muaro Jambi. 315 meter sebelah timur dari jalan menuju Desa Danau Lamo. Candi Kotomahligai di bagian barat terdapat bekas sungai yang sudah mengering, hanya dikala musim hujan terisi oleh air. Di bagian selatan berbatasan dengan sungai Amburan jalo dan di bagian timur berbatasan dengan sungai Terusan Dalam. Pada situs percandian Muara Jambi, candi kotomahligai merupakan bangunan struktur bata yang terletak pada gugusan paling barat. Candi ini telah dilakukan kegiatan studi teknis pada tahun 2001. Ukuran pagar keliling 97,5 x 120 meter, pagar pembagi ruang terletak melingkup Candi induk dan Perwara di bagian timur dengan ukuran 69,5 x 54 meter. Ukuran gundukan candi induk 20 x 20 meter dan ukuran candi perwara 20 x 15 meter.

Candi Tinggi 2

 

Candi ini terletak di sebelah selatan Candi Tinggi. Mempunyai pagar keliling ukuran 54 x 38,5 meter dan sebuah gapura di bagin timur ukuran 10 x 7,5 meter. Candi Induk terletak dibagian halaman tengah sebelah utara hanya tidak tepat searah gapura, tapi bergeser kesebelah kiri. Arah hadap candi induk ini sesuai dengan posisi penampilannya yang menghadap timur. Candi induk ini mempunyai selasar di bagian timur, sehingga terlihar seperti mempunyai 2 undukan menuju bagian atas Candi. Candi induk ini juga terlihat mempunyai 2 masa bangunan, hal ini tampak pada saat dilakukan pembongkaran susunan bagian luar bangunan yang memperlihatkan adanya susunan bata lain yang rapi di bagian dalam. Terlihat bahwa susunan bata lain yang rapi dibagian dalam. Terlihat bahwa susunan bata bangunan luar saat ini merupakan susunan bata tambahan setelah susunan dalam.

Di depan Candi induk ini berdiri sebuah Candi Perwara berukuran 9 x 9 meter dengan struktur bata hanya disekelilingnya saja, bagian tengah berisi tahan. Pada bagian tengah di sisi timur dan barat Candi Perwara terdapat susunan bata yang menjorok keluar dengan ukuran 2,5 x 0,5 meter.

Perwara lain yang belum dapat di rekonstruksi terdapat di sebelah barat Candi Induk. Sekurangnya terdapat 3 buah bangunan yang masih berdiri di tempat ini dengan kondisi sudah rusak walau profilnya sebagian masih dapat terlihat. Kerusakan bangunan ini dikarenakan pernah tumbuh pohon besar disekitarnya.

Antara Candi Induk dan Candi Perwara di bagian barat sekeliling tanah tersebut dipasangi dengan susunan lantai bata. Susunan lantai bata ini ada yang berupa susunan bata utuh dan ada juga yang terdiri atas susunan bata pecahan.

Candi Teluk I

Candi Teluk I secara astronomis terletak 102° 22’45”BT dan 01°24’33”LS. Keberadaan Candi Teluk ditemukan secara kebetulan pada tahun 1980, sebuah buldoser yang sedang meratakan tanah untuk persiapan pabrik menabrak sisa banguna kuno, segera setelah itu tim dari Ditlinbinjarah dan Puslitarkenas Jakarta mengadakan survey sekaligus melakukan ekskavasi untuk memperoleh keyakinan bahya yang di tabrak itu bagian dari bangunan kuno (Candi Teluk I) dan daerah tersebut merupakan situs purbakala.

Candi telut terletak dipinggiran bagian selatan Sungai Batanghari tepatnya Sungai Kemingking. Ada 4buah gundukan tahan yang di identifikasimerupakan candi induk berdenah empat persegi dengan ukuran 20 x 20 m menghadap timur laut, candi perwara berdenah segi empat dengan ukuran 11 x 20 m letaknya sebelah timur laut dari candi induk, gapura berdenah segi delapan ukuran 11 x 5 m terletak disebelah timur laut candi induk. Pagar keliling berdenah bujursangkar dan berukuran 50 x 50 m.

Candi Teluk II

Candi Teluk II ditemukan bersama dengan Candi Teluk I secara kebetulan pada tahun 1980, sebuah buldoser yang sedang meratakan tanah untuk persiapan pembangunan pabrik menabrak sisa bangunan kuno, segera setelah itu tim dari Ditlinbinjarah dan Puslitarkenas Jakarta mengadakan survei sekaligus melakukan ekskavasi untuk memperoleh keyakinan bahwa yang ditabrak itu bagian dari bangunan kuno (Candi Teluk II) dan daerah tersebut merupakan situs purbakala.

Lokasi Candi ini di sebelah selatan candi Teluk I sekitar 350 m. candi ini berdenah bujursangkar dengan ukuran 12 x 12 m, lahan candi dengan mess karyawan lokasi candi berada dilahan terbuka saat ini digunakan sebagai lokasi pembakaran kayu potongan limbah pabrik.

Menapo (Reruntuhan atau Situs Kuno)

Di dalam situs percandian Muara Jambi selain terdapat candi ytang telah dipugar juga terdapat menapo (Reruntuhan bangunan kuno) yang masih perlu dilakukan kegiatan baik berupa kegiatan penelitian, pembahasan lahan maupun kegiatan pelestarian lainnya. Keberadaan menapo yang ada di Situs Percandian Muara Jambi menyebar keseluruh kompleks yang memiliki luas wilayah 2062 Ha. Dari keseluruhan menapo ini beberapa telah dilakukan tes dengan ekskavasi penyelamatan dan masih cukup banyak yang belum dilakukan ekskavasi. Tidak seluruh menapo yang ada ini memiliki struktur bata kuno di dalamnya, ada beberapa di antaranya yang hanya berupa gundukan tanah yang sengaja dibentuk di masa lalu, salah satunya dahulu dipakai sebagai lokasi pemukiman.

Kanal dan Kolam Kuno

a. Kolam Telago Rajo

 

Keberadaan Kolam Telago Rajo ditemukan pada pertengahan tahun 1970-an, kepastian fungsi Kolam Telago Rajo belum jelas, tetapi sedikit dapat disimpulkan keberadaan kolam tersebut dikaitkan dengan tempat waduk control supaya air tidak menggenangi lingkungan candi dan persedian air bersih masyarakat masa lalu. Kolam Telago Rajo terletak 100 meter sebalah tenggra Candi Gumpung. Kolam ini terbuat dari gunduhan tanah dan bagian tepi berupa gunduhan yang  berbentuk persegi panjang ukuran 130 x 100 meter dan kedalamannya sekitar 2 sampai 3 meter dari permukaan tanah sekarang. Lebar bidang gunduhan ini mencapai 20 meter. Dari hasil inventaris menunjukkan selain kolam Telago Rajo juga terdapat kolam-kolam kuno tersebar di dekat beberapa bangunan candi.

b.  Kanal Kuno

Bagian penting dari Situs Percandian Muarajambi selain bangunan candi, kolam kuno dan menapo, yaitu adanya kanal-kanal yang  mengelilingi kawasan percandian. Kanal-kanal inilah yang dahulu disamping berfungsi sebagai symbol kosmologis dalam konteks budhisme, juga berfungsi sebagai srana transportasi antar candi dan  sabuk pengamanan kawasan yang disucikan. Keberadaan kanal-kanal ini masih dapat ditelusuri dengan nama : Sungai Melayu, Sungai Buluran Kecil, Sungai Jambi, Parit Jonor, Parit Sekapung, Sungai Buluran Dlam, Sungtai Buluran Keli, Buluran Paku, dan Sungai Selat.

Bukit Sengalo/Bukit Perak

Bukit yang terbentuk hanya dari gunduhan tanah ini terletak paling barat dari gugusan situs Muarajambi. Tepatnya di wilayah Desa Batu, Kecamatan Maroseb. Kabupaten Muarajambi. Jalan menuju lokasi bukit Sngalo adalah melalui jalan ke Desa Danau Lame, kemudian di lanjutkan kea rah   barat kurang lebih 1 kilometer manuju Bukit Sengalo. Bukit ini merupakan bukit buatan yang terdiri atas gunduhan utama dan gunduhan jalan masuk. Gunduhan ini berukuran 30 x 30 meter dan gunduhan jalan masuk mendaki yang memanjang arah timur barat. Bagian puncak gunduhan  terbentuk lubang besar yang kabarnya terbuat dari pengggalian air di masa lalu. Sekeliling Bukui Sengalo saat ini adalah perkebunan kelapa sawit. 

 

Sumber: Draf Nominasi Daftar World Heritage, UNESCO - Situs Percandian Muarajambi (Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jambi, 2009)

 



Tambahkan Artikel ini di situs jejaring sosial Anda
Reddit! Del.icio.us! Mixx! Free and Open Source Software News Google! Live! Facebook! StumbleUpon! TwitThis Joomla Free PHP